Indonesia Butuh Generasi Berprinsip

 

.............................................................................................................................

Biasanya penulis mendengar bahwa anak muda seringkali dgaungkan sebagai agent of change bagi bangsa Indonesia. Terlebih seorang mahasiswa yang mempunyai kesempatan belajar lebih dalam menyelami ilmu pengetahuan. Ngomong-ngomong, jika dilihat dari realitas sekarang tak sedikit sih anak muda, entah itu mahasiswa ataupun secara umum jauh dari harapan sebagai pewaris dalam mengarahkan masa depan bangsa menuju kearah yang lebih baik.

“Salam dari Binjai”, menjadi salah satu contoh konten yang diciptakan anak muda zaman now. Konten dengan konsep memukul pohon pisang hingga tumbang. Entah apa maksudnya memukul pohon pisang hingga tumbang, penulis nggak tau pasti. Apa supaya terlihat jago atau bagaimana?. Pastinya yang terjadi hal tersebut banyak diikuti oleh anak-anak muda dari berbagai belahan di Indonesia. Lamongan dan Salatiga misalnya.

Dari informasi yang penulis baca ternyata banyak pohon pisang milik petani di Lamongan dan Salatiga tumbang akibat anak-anak muda yang mengikuti trend tersebut. Sehingga, dengan kejadian itu pastinya sang petani gagal panen akibat tumbangnya pohon pisang. Ini sih parah, kasihan para petani yang capek-capek nanam malah dirobohkan begitu saja.

Ini merupakan dampak dari konten toxic yang diciptakan anak muda. Artinya generasi yang kita anggap pewaris masa depan ternyata tak menggubris terhadap apa dampak konten yang ia ciptakan. Bagi mereka mungkin adalah kepuasan dan popularitas. Pastinya, karena itu menguntungkan. Nyatanya sang pencipta konten di undang ke televisi-televisi, iya kan.

Selain itu, mahasiswa yang digadang-gadang akan menjadi ujung tombak bagi agent of change pun tak semua dapat diharapkan. Dalam prakteknya mahasiswa terkadang juga menyelipkan kepentingan untuk meraup keuntungan pribadi dan kelompoknya.

Tidak semua. Ini hanyalah kaca mata penulis dalam melihat realitas mahasiswa dalam berorganisasi. Penulis melihat dalam sudut pandang realitas berorganisasi, karena penulis meyakini bahwa organisasi merupakan wadah untuk membentuk karakter seorang mahasiswa. Tergantung, bagaimana cara seorang mahasiswa berorganisasi. Kadangkala kepentingan pribadi juga diselipkan. Ini yang penulis maksud, jika dari dasar dalam berorganisasi dikampus saja sudah membawa kepentingan, bagaimana nantinya jika ia sudah benar-benar terjun kedalam organisasi yang lebih besar. Institusi negara misalnya. Sudah pastinya, karakter seperti itu akan terbawa.

Sekali lagi penulis katakan tidak semua mahasiswa. Bahkan dalam penglihatan penulis banyak sekali mahasiswa yang benar-benar berjuang bagi masyarakat. Penulis bangga melihat mahasiswa yang berkarakter seperti itu. Namun terkadang penulis juga kepikiran, mungkinkah idelisme baik mereka tetap terjaga hingga mereka dapat duduk di kursi-kursi penting negara?. Jangan-jangan idealisme mereka akan terkuras abis akibat nikmat empuknya kursi negara?. Atau jika ada kesempatan mereka bakal ikut-ikutan menggarong uang rakyat?.

Ya, penulis berhak khawatir dan bertanya-tanya seperti itu. Sebab pada tahun 2015 memang ada kok aktivis mahasiswa perguruan tinggi di Semarang yang menjadi koruptor dana bantuan sosial. Korupsinya pun nggak tanggung-tanggung dari pelaku yang berinisial AN dan AG menerima uang bansos sebesar 83 Juta dan 44 Juta. Ngeri nggak tuh.?

Kejadian baru malah ada mahasiswa membacok mahasiswa lainya di Semarang. Hanya karena perdebatan dalam kontestasi pemilihan DPR-nya mahasiswa atau yang biasa disebut Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Dalam politik apalagi hanya sekelas kampus, sebagai insan akademik perbedaan sudut pandang adalah hal yang biasa. Tapi ini malah bisa-bisanya membacok, korban sampai kejang-kejang lagi. Benar-benar parah. Sama sekali tidak mencerminkan seorang akademik ataupun agent of change.

Nhah, dari sini penulis berfikir, Indonesia nggak bisa hanya mengandalkan anak muda atau mahasiswa untuk menjadi agent of change. Tetapi Indonesia perlu generasi muda yang berprinsip.

Orang yang berprinsip artinya ia mempunyai ketegasan dalam hidup. Orang yang mempunyai prinsip tidak akan dapat digoyahkan oleh sesuatu diluar prinsip yang dipegang.

Prinsip selayaknya kita ibaratkan sebagai kompas yang mengarahkan kemana akan berjalan. Kita pun dapat meilihat jika manusia yang berprinsip baik akan melahirkan tindakan dan perilaku yang baik pula. Tanpa prinsip, orang tidak akan tau bagaimana dan kemana ia akan melangkah. Orang yang tidak mempunyai prinsip akan mudah goyah dan tergoda dengan sesuatu yang tak sesuai dengan pribadinya. Sehingga, pada akhirnya tujuan menjadi tak jelas adanya.

Sangat berbahaya jika generasi muda pewaris masa depan tak mempunyai prinsip baik. Pastinya akan mengaburkan segala cita-cita bangsa yang telah dibangun oleh para pendahulu kita.

Dengan memiliki prinsip maka kita akan konsisten dalam apa yang terawat pada idealisme yang diperjuangkan. Sebab, salah satu kunci sukes adalah memegang teguh prinsip dengan komitmen yang tidak rendah. Jika para pewaris masa depan mampu konsisten dalam memegang prinsip baik, apa yang sudah dibangun hasilnya dapat diraih dengan maksimal.

Pada akhirnya, Indonesia tak bisa hanya mengandalkan sekedar anak muda atau mahasiswa saja untuk menjadi agnet of change. Sebab, Indonesia membutuhkan mereka yang berprinsip untuk membawa kemajuan bangsa yang lebih baik.

Komentar

Postingan Populer