Indonesia Butuh Generasi Berprinsip
|
Biasanya
penulis mendengar bahwa anak muda seringkali dgaungkan sebagai agent of change
bagi bangsa Indonesia. Terlebih seorang mahasiswa yang mempunyai kesempatan
belajar lebih dalam menyelami ilmu pengetahuan. Ngomong-ngomong, jika dilihat
dari realitas sekarang tak sedikit sih anak muda, entah itu mahasiswa ataupun
secara umum jauh dari harapan sebagai pewaris dalam mengarahkan masa depan
bangsa menuju kearah yang lebih baik.
“Salam dari
Binjai”, menjadi salah satu contoh konten yang diciptakan anak muda zaman now.
Konten dengan konsep memukul pohon pisang hingga tumbang. Entah apa maksudnya
memukul pohon pisang hingga tumbang, penulis nggak tau pasti. Apa supaya
terlihat jago atau bagaimana?. Pastinya yang terjadi hal tersebut banyak
diikuti oleh anak-anak muda dari berbagai belahan di Indonesia. Lamongan dan
Salatiga misalnya.
Dari informasi
yang penulis baca ternyata banyak pohon pisang milik petani di Lamongan dan
Salatiga tumbang akibat anak-anak muda yang mengikuti trend tersebut. Sehingga,
dengan kejadian itu pastinya sang petani gagal panen akibat tumbangnya pohon
pisang. Ini sih parah, kasihan para petani yang capek-capek nanam malah
dirobohkan begitu saja.
Ini merupakan
dampak dari konten toxic yang diciptakan anak muda. Artinya generasi yang kita
anggap pewaris masa depan ternyata tak menggubris terhadap apa dampak konten
yang ia ciptakan. Bagi mereka mungkin adalah kepuasan dan popularitas.
Pastinya, karena itu menguntungkan. Nyatanya sang pencipta konten di undang ke
televisi-televisi, iya kan.
Selain itu,
mahasiswa yang digadang-gadang akan menjadi ujung tombak bagi agent of change
pun tak semua dapat diharapkan. Dalam prakteknya mahasiswa terkadang juga
menyelipkan kepentingan untuk meraup keuntungan pribadi dan kelompoknya.
Tidak semua.
Ini hanyalah kaca mata penulis dalam melihat realitas mahasiswa dalam
berorganisasi. Penulis melihat dalam sudut pandang realitas berorganisasi,
karena penulis meyakini bahwa organisasi merupakan wadah untuk membentuk karakter
seorang mahasiswa. Tergantung, bagaimana cara seorang mahasiswa berorganisasi.
Kadangkala kepentingan pribadi juga diselipkan. Ini yang penulis maksud, jika
dari dasar dalam berorganisasi dikampus saja sudah membawa kepentingan,
bagaimana nantinya jika ia sudah benar-benar terjun kedalam organisasi yang
lebih besar. Institusi negara misalnya. Sudah pastinya, karakter seperti itu
akan terbawa.
Sekali lagi
penulis katakan tidak semua mahasiswa. Bahkan dalam penglihatan penulis banyak
sekali mahasiswa yang benar-benar berjuang bagi masyarakat. Penulis bangga
melihat mahasiswa yang berkarakter seperti itu. Namun terkadang penulis juga kepikiran,
mungkinkah idelisme baik mereka tetap terjaga hingga mereka dapat duduk di
kursi-kursi penting negara?. Jangan-jangan idealisme mereka akan terkuras abis
akibat nikmat empuknya kursi negara?. Atau jika ada kesempatan mereka bakal ikut-ikutan
menggarong uang rakyat?.
Ya, penulis
berhak khawatir dan bertanya-tanya seperti itu. Sebab pada tahun 2015 memang
ada kok aktivis mahasiswa perguruan tinggi di Semarang yang menjadi koruptor
dana bantuan sosial. Korupsinya pun nggak tanggung-tanggung dari pelaku yang
berinisial AN dan AG menerima uang bansos sebesar 83 Juta dan 44 Juta. Ngeri
nggak tuh.?
Kejadian baru
malah ada mahasiswa membacok mahasiswa lainya di Semarang. Hanya karena
perdebatan dalam kontestasi pemilihan DPR-nya mahasiswa atau yang biasa disebut
Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Dalam politik apalagi hanya sekelas kampus,
sebagai insan akademik perbedaan sudut pandang adalah hal yang biasa. Tapi ini
malah bisa-bisanya membacok, korban sampai kejang-kejang lagi. Benar-benar
parah. Sama sekali tidak mencerminkan seorang akademik ataupun agent of change.
Nhah, dari sini
penulis berfikir, Indonesia nggak bisa hanya mengandalkan anak muda atau
mahasiswa untuk menjadi agent of change. Tetapi Indonesia perlu generasi muda
yang berprinsip.
Orang yang
berprinsip artinya ia mempunyai ketegasan dalam hidup. Orang yang mempunyai
prinsip tidak akan dapat digoyahkan oleh sesuatu diluar prinsip yang dipegang.
Prinsip
selayaknya kita ibaratkan sebagai kompas yang mengarahkan kemana akan berjalan.
Kita pun dapat meilihat jika manusia yang berprinsip baik akan melahirkan
tindakan dan perilaku yang baik pula. Tanpa prinsip, orang tidak akan tau
bagaimana dan kemana ia akan melangkah. Orang yang tidak mempunyai prinsip akan
mudah goyah dan tergoda dengan sesuatu yang tak sesuai dengan pribadinya.
Sehingga, pada akhirnya tujuan menjadi tak jelas adanya.
Sangat
berbahaya jika generasi muda pewaris masa depan tak mempunyai prinsip baik.
Pastinya akan mengaburkan segala cita-cita bangsa yang telah dibangun oleh para
pendahulu kita.
Dengan memiliki
prinsip maka kita akan konsisten dalam apa yang terawat pada idealisme yang
diperjuangkan. Sebab, salah satu kunci sukes adalah memegang teguh prinsip
dengan komitmen yang tidak rendah. Jika para pewaris masa depan mampu konsisten
dalam memegang prinsip baik, apa yang sudah dibangun hasilnya dapat diraih
dengan maksimal.
Pada akhirnya,
Indonesia tak bisa hanya mengandalkan sekedar anak muda atau mahasiswa saja
untuk menjadi agnet of change. Sebab, Indonesia membutuhkan mereka yang
berprinsip untuk membawa kemajuan bangsa yang lebih baik.


Komentar
Posting Komentar