NKRI Harga Naik
....................................................................................................................................
Kemeriahan natal dan tahun baru sepertinya tak berbanding lurus dengan kebahagiaan kaum Ibu. Sang konsumen setia yang kerap kali membeli bahan pokok dapur untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Keringat mereka mulai terperas ditengah suka cita natal dan tahun baru. Hal itu terjadi ketika melihat harga-harga bahan pokok di pasar merangkak naik melambung di angkasa.
Harga seperti minyak goreng, telur, cabe, bawang dll naik
tanpa memberi kompromi pada sang Ibu. Padahal, dalam moment bahagia seperti ini,
sang Ibu masih harus tetap menyalakan kompornya.
Tak hanya Ibu, mahasiswa perantauan pun merasakan dampak yang
luar biasa. Dimana harga nasi bungkus pun turut serta naik, dompet seperti tersengat
listrik, rasanya gemetar, sakit dan
perih. Padahal tiap bulan isi dompet itu limit, hanya pasa-pasan. Kadang kala ketika
lapar dan nggak punya uang, mereka bele-belain ngutang pada temen yang
ekonominya lebih kuat.
“Cukkkk ki opo kok mundak kabeh,” begitu kata temen
sekamarku sepulang ia membeli nasi.
Ya ya ya.... padahal
kemarin malam teman saya ini sudah sangat happy melihat kelolosan timnas
Indonesia ke final piala AFF 2020. Bahkan dendangan teriak keras turut serta
menjadi selimut dalam nobar malam itu. “NKRI harga mati,” begitu kata temenku
yang melihat trengginasnya pemain Timnas dalam melawan kesebalasan Singapur.
Mungkin saja para pemain Timnas itu merasakan sejuta
kebahagiaan setelah berhasil membawa panji bangsa ke partai puncak. Tak lupa, mereka pasti akan menerima besarnya bonus.
Berbeda dengan teman sekamarku ini, ia mendapatkan beban
serius dari negara terhadap meroketnya harga bahan pokok dapur. Seakan-akan #NKRIHargaMati
itu semakin benar adanya, setelah #NKRIHargaNaik dan #NKRIHargaLapar.



Komentar
Posting Komentar