Millenial Krisis Identitas dan Moralitas
Setelah Presentasi Karya Ilmiah Hukum di Jakarta (Foto: Dokumen Pribadi) |
Era globalisasi terus berkembang secara pesat dan seringkali
menyisihkan perilaku serta kebiasaan baik yang dianggap kuno. Dunia digital pun
telah menyatu dengan peradaban manusia. Bahkan tak sedikit yang dijadikan tolak
ukur bagi keberhasilan hidup.
Jutaan konten yang tersebar melalui platform digital menjadi
hidangan lezat setiap harinya. Tidak ada tembok yang bisa membatasi. Semua
bergerak secara bebas sesuai kehendak dan algoritma. Akan terjerumus jika tak
sehat akal. Maka kembali pada diri sendiri yang harus peka dalam memilih
sesuatu yang bermanfaat.
Tak sedikit generasi muda kekinian terbius dengan konten yang
salah. Konten toxic yang secara lambat laun memberikan pengaruh karakter
buruk pada mereka yang menontonya. Sudah sangat jelas jika saat ini tontonan
menjadi penuntun bagi kehidupan millenial. Sehingga seperti menjadi kewajaran
jika melihat generasi muda kekinian yang mengindahkan norma dan sikap tidak
bermoral, terlebih terhadap kehidupan dunia maya.
Pada dasarnya cukup banyak konten positif yang berkembang. Namun
konten negatif tak kalah menarik untuk disantap. Apalagi algoritma digital
membentuk suguhan yang membius. Sehingga kadangkalanya jalan dari konten
negatif dan postif berjalan seiring namun tak seimbang.
Fenomena perilaku dan kepribadian anak muda kekinian semakin jauh
dari nilai-nilai Pancasila. Akar nilai luhur budaya bangsa seakan luntur
sebagai jati diri.
Perilaku sopan santun yang dibentuk di dalam sekolah tak jauh
seperti kertas nan terbakar oleh api. Lenyap dan menjadi abu yang terbang
tersiak-siak. Apalagi ketika menyelami dunia maya. Melalui ketikan jari pada
kolom komentar orang lain kata-kata rasis dan diskriminasi kerap terlontar.
Seakan-akan ia menjadi manusia paling benar dan tanpa dosa. Paling parah ketika
krisis identitas dan moral adalah ketika mereka harus menjadi apa yang orang
dambakan. Mereka akan mengikuti tren yang telah dianggapnya viral.
Lemahnya ketahanan budaya pada anak muda kekinian ditunjukan oleh
terjadinya gejala krisis identitas sebagai akibat semakin melemahnya norma lama
dan belum terkonsolidasinya norma baru. Hal ini telah mengakibatkan terjadinya
sikap ambivalensi dan disorientasi tata nilai. Ditambah semangat kebebasan membuat
subur pandangan serba boleh.
Banyak diantara joget-joget, sebut saja diaplikasi tiktok yang
memperlihatkan lekuk dan keindahan tubuh. Atau baru-baru ini trending soal
“salam dari Binjai” yang memperlihatkan bagaimana ia merobohkan pohon pisang
dengan cara memukul dengan tangan. Ketika konten-konten itu berhasil menjadi trending,
maka banyak juga yang mengikuti.
Sempat heboh, rusaknya tanaman pisang milik wargai Kota Salatiga
dan Lamongan. Disebut-sebut para pelaku adalah remaja yang sedang meniru “salam
dari Binjai” yang sedang trending saat itu. Ini merupakan salah satu contoh
dampak buruk yang dikonsumsi generasi muda kekinian. Meski telah jelas berdampak
buruk, demi kepentingan ratting media televisi malah mengundangnya
sebagai bintang tamu. Hal ini malah memperkuat akar buruk ditengah krisis moral
yang kian tergaruk.
Selain itu, sebagaian konten karya anak Ibu Kota ada yang membahas
tentang pernikahan yang tidak sengaja, berpakaian bikini, minum-minuman alkohol
dan hal toxic lainya bisa dinikmati ribuan bahkan jutaan penonton. Bagi
konten kreator itu tidak ada yang salah dan benar. Karena semua kembali pada
diri kita masing-masing. Apa yang di suka dan berhak memilih.
Miris memang ketika melihat fakta lapangan. Moralitas seakan-akan
sedang terdegradasi di papan yang paling bawah. Sungguh krisis identitas dan
moral sedang melanda anak muda kekinian. Tidak lain dan tidak bukan hal ini
dipengaruhi salah satunya kembali pada tontonan.
Algoritma digital semakin menyulitkan bagi kita untuk menangkalnya.
Hanya kedekatan individu dan Tuhanlah yang menjadi pengikatnya. Rasa takut dan
merasa terawasi oleh Tuhan perilaku baik seseorang dapat terjaga.
Masa remaja merupakan masa transisi menuju kedewasaan. Semestinya
dapat memilah mana yang baik dan buruk. Sebab di masa itulah kecerdasan akal
dan berfikir telah sempurna. Tinggal kemampuan kita dalam menyaring yang baik,
dan membuang yang buruk.
Krisis moralitas anak muda kekinian harus segera diatasi. Sebab
mereka adalah generasi yang nantinya mewarisi peradaban bangsa. Mereka yang
mempunyai peran besar dalam mengarahkan masa depan kapal bernama Indonesia. Agent
off change adalah salah satu hal yang wajib dituntut pada generasi muda.
Supaya mereka benar-benar mampu mengepakan sayap garuda menuju yang lebih baik.
Untuk itu perlu dibangun karakter generasi muda yang sesuai dengan
nilai-nilai Pancasila. Eksistensi suatu bangsa sangat ditentukan oleh karakter
yang dimiliki. Hanya bangsa yang memiliki karakter kuat yang mampu menjadikan
dirinya sebagai bangsa yang bermartabat dan disegani bangsa lain. Oleh karena
itu, menjadi bangsa yang berkarakter adalah mimpi bagi kita semua. Bahkan
Soekano selalu menggelorakan kesadaran generasi muda sejak dari dulu kala
dengan membentuk “nation and character building”.


Komentar
Posting Komentar