Membangun Islam Moderat Melalui Dakwah Digital
Akhir-akhir ini Indonesia digegerkan dengan adanya
serentetan aksi terorisme. Bahkan aksi teror yang terjadi di Mabes Polri
dilakukan oleh ZA yang masih berusia 25 tahun. Dapat dikatakan pelaku tersebut
masuk dalam kategori generasi millenial.
Melihat kejadian itu mengindikasikan bahwa
radikalisme sudah mulai masuk dan tumbuh dikalangan millenial. Lembaga Kajian
Islam dan Perdamaian pernah menyatakan bahwa terdapat 49% pelajar setuju
terhadap aksi radikal yang barlabel agama. Dari sini dapat kita lihat bahwa banyak
anak muda yang mulai terjerumus pada lingkaran radikal. Hal ini menjadi
keprihatinan tersendiri. Terlebih aksi-aksi kekerasan yang terjadi diklaim
menjadi jalan jihad agama Islam.
Aksi kekerasan yang mengatasnamakan jihad dalam
Islam tidak dapat dibenarkan. Sebab, jihad yang dimaksud didalam Islam adalah
membangun yang lebih baik bukan merusak seperti apa yang dilakukan oleh seorang
teroris.
Terlepas klaim itu benar atau salah yang pasti aksi
kekerasan bukanlah wujud implementasi ajaran Islam. Sebaliknya, perilaku itu
menyimpang cukup jauh dari ajaran Islam itu sendiri.
Islam merupakan agama yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad sebagai utusan yang terakhir untuk menjadi pedoman bagi seluruh umat
manusia hinga akhir zaman. Kedatangan Islam menjadi penyempurna bagi agama-agama
sebelumnya sekaligus jalan hidup bagi pemeluknya.
Secara umum Islam mempunyai banyak interpretasi yang
dimana mempunyai banyak perbedaan substantif pemahaman. Maka, tidak bisa
dipungkiri jikalau umat Islam tidak lepas dari berbagai aliran yang menyimpang
dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Karena itu ajaran Islam moderat
mempunyai arti penting khususnya di era saat ini yang banyak ditumbuhi aliran
ekstrim baik radikal maupun liberal.
Islam moderat adalah Islam yang bersifat humanis
yang dapat mengayomi berbagai lapisan sosial baik secara etnis maupun agama.
Islam yang seperti ini tidak hanya fokus terhadap kewajiban dalam menyembah Tuhan,
akan tetapi juga peduli terhadap sesama manusia, makhluk dan alam tanpa melihat
latar belakang. Hal tersebut bertujuan untuk mengembalikan fitrah Islam yang Rahmatan lill ‘alamin yaitu Islam yang
penuh dengan rahmat dan kasih sayang.
Islam moderat menjadi landasan dasar dalam menjalankan
agama Islam. Hal ini tercermin dalam diri Rasulullah yang tidak pernah berbuat
dzalim kepada penganut kepercayaan lain. Bahkan Rasulullah sering mengajak para
sahabatnya untuk selalu bersikap lemah lembut dan menjauhi sikap kasar demi menjaga
kerukunan antar sesama.
Guna menjaga misi Rahmatan lil ‘alamin Islam moderat mempunyai sikap yang anti
terhadap kekerasan dalam bersikap ditengah masyarakat. Dengan seperti itu Islam
moderat dapat menjadi penjaga dan pengawal konsistensi Islam yang dibawa oleh
Rasulullah.
Di era saat ini paham radikal dan liberal banyak
menyelinap melalui informasi dan komunikasi digital. Pantas saja jika banyak
generasi millenial yang terpapar ajaran radikalisme. Sebab, generasi tersebut
memiliki sikap ketergantungan terhadap komunikasi digital. Ditambah generasi
millenial cenderung belum dapat memilah dan memilih informasi yang diterima.
Oleh karena itu para pendakwah moderat perlu untuk mempersiapkan diri dengan
memperbaiki kompetensinya guna menjadi role
model yang menginspirasi dan membawa kejalan Islam Rahmatan llil ‘alamin.
Agar pendakwah moderat mempunyai kemampuan untuk
membimbing generasi millenial. Diperlukan nilai-nilai Rahmatan llil ‘alamin yang harus dimiliki, diantaranya keteladanan,
toleransi, kolektivitas, pluralitas, humanis dan dialektis. Baik secara
filososfis maupun historis pendakwah moderat harus siap mengahadapi era
millenial. Siap dalam menumbuhkan sumber daya manusia yang unggul dan dapat
mengatasi segala problematika yang timbul.
Kelahiran teknologi mempermudah masyarakat dalam
mengakses informasi. Sehingga kultur masyarakat saat ini cepat mengalami
kejenuhan. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pendakwah moderat yang
dituntut untuk tidak hanya fokus dalam menyampaikan pesan secara serius.
Tetapi, pendakwah moderat juga dituntut untuk dapat menyampaikan pesan penting
dengan cara yang tidak membosankan.
Pendakwah moderat dapat berdakwah menggunakan cara
humoris misalnya. Dengan cara humor inilah supaya generasi millenial berfikir
bahwa belajar ilmu agama itu menyenangkan dan tidak selalu kaku. Sebab generasi
millenial cenderung suka terhadap hal yang menarik dan menyenangkan.
Teknologi sebagai media komunikasi sangat mendukung
terhadap pelaksanaan dakwah. Dengan memaksimalkan dakwah melalui media
komunikasi maka pesan akan lebih cepat untuk diterima banyak orang. Mengingat
jarak yang terlalu luas tidak memungkinkaan dapat dijangkau pendakwah
keseluruhan secara langsung. Ditambah lagi teknologi sudah menjadi kebutuhan
yang tidak dapat ditinggalkan.
Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara
Jasa Internet Indonesia (APJII) merilis bahwa pada tahun 2020 jumlah pengguna
internet di Indonesia mencapai 196,7 juta atau 65% dari total populasi. Data
tersebut cukup menarik jika dikaitkan dengan hasil survei yang dilakukan oleh
CSIS yaitu sebanyak 81,7% millenial memiliki facebook, 70,3% whatsapp dan 54,7%
instagram serta twitter 23,7%.
Berdasarkan data inilah pesan dakwah melalui jalan
digital akan secara langsung dapat diterima manfaatnya oleh banyak orang. Banyaknya
pengguna media sosial menjadi peluang untuk dapat bersaing dan mengikis ajaran
ekstrim yang sudah merasuk kedalam lingkungan millenial. Dengan media digital
ini Islam harus dapat menunjukan wajah yang sejuk dan ramah. Sehingga teknologi
digital dapat dikatakan menjadi media terbaik bagi para pendakwah yang mampu
menembus batas ruang dan waktu.
Jika saja pesan dakwah Islam moderat yang
disampaikan dapat diserap oleh kalangan millenial. Maka secara tidak langsung Islam
moderat akan menjadi jalan hidup. Ini menjadi tonggak kembalinya jati diri
Islam yang sebenarnya yaitu berdiri diatas spiritual dan intelektual,
menyeimbangkan antara dalil yang tekstual dan rasional, tidak hanya
memperhatikan hubungan antara dirinya dengan tuhan, tetapi hubungan antara
manusia dan manusia, dan manusia dengan alam.


Komentar
Posting Komentar