Ganjar vs Puan: Jangan Polos Dalam Menilai Drama Politik
![]() |
| Ganjar Pranowo dan Puan Maharani (Foto: Google.com) |
Akhir-akhir ini keretakan Ganjar Pranowo dan Puan Maharani ramai
dibicarakan anak seluruh negeri. Hal itu berawal dari Gubernur Jawa Tengah yang
tidak diundang ke acara konsolidasi partai PDI Perjuangan di Semarang. Ditambah
komentar keras dari ketua DPD PDIP Jawa Tengah bahwa Ganjar tak diundang ke
acara partai karena ia dinilai mempunyai ambisi untuk maju dalam pemilihan
presiden 2024.
Drama politik yang sedang terjadi saat ini jangan dinilai secara
polos. Masyarakat harus sadar bahwa politik itu mempunyai sifat yang dinamis
dan dapat berubah setiap waktu.
Pembicaraan yang populer kelas wahid dalam drama ini adalah
perpecahan Ganjar dan Puan. Benarkah perpecahan itu terjadi.? Bagaimana jika
PDI Perjuangan benar-benar menyiapkan Ganjar untuk maju di Pilpres. Sehingga
dengan cara tersebutlah menjadikan Ganjar mendapatkan banyak simpatisan. Atau
semua itu hanyalah strategi PDI Perjuangan untuk menaikan elektabilitas Ganjar
yang masih kalah dengan Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. Atau elektabilitas
sang putri mahkota yang masih jauh dari rata-rata.
Semua itu memungkinkan dan bisa menjadi bagian dari startegi.
Sebab, kembali lagi politik itu dinamis.
Mikhael Raja Muda Bataona, akademisi Universitas Katolik Widya
Mandira menilai jika peristiwa tersebut sebagai drama bunuh diri palsu ala PDI
Perjuangan. Karena, menurut dosen Investigatif News dan Jurnalisme Konflik,
FISIP, Unwira itu tidak ada peristiwa politik yang terjadi tanpa intensi.
Dapat dilihat jika pernyataan politik Puan Maharani dan Bambang
Pacul mempunyai kandungan makna “sexy” yang dapat menarik pengamat, media pers
dan publik.
Selain itu, peristiwa yang terjadi juga cukup aneh. Dimana sebelum
sentilan Puan Maharani dilontarkan, Ganjar Pranowo terlebih dahulu menemui
ketua umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri. Disana, Gubernur berambut
putih tersebut menyerahkan foto lukisan “Bu Mega” bersama anak-anak. Bahkan,
Ganjar juga membagikan foto Megawati bersamanya di instagram.
Hanya dalam hitungan hari saja, Gubernur alumni Universitas Gadjah
Mada tersebut “diserang” oleh Puan Maharani dan Bambang Pacul dengan pernyataan
yang cukup keras seperti “sok pintar” dan “sudah kelewatan.”
Dilanjut perlakuan terhadap Ganjar yang tidak diundang dalam acara
konsololidasi penguatan kader di Kantor DPD PDI Perjuangan di Semarang.
Padahal, dapat kita ketahui Ganjar Pranowo adalah Gubernur Jawa Tengah
sekaligus kader PDI Perjuangan.
Kembali, bagi Mikhael itu tidak mungkin dilakukan tanpa koordinasi.
Sehingga, menurutnya drama tersebut merupakan strategi yang disengaja oleh PDI
Perjuangan untuk menaikan popularitas partai dan dua tokoh kuat yang masuk
dalam bursa calon presiden 2024. Ini sangat menguntungkan bagi partai yang
berlambang kepala banteng tersebut.
Jika ini benar-benar strategi PDI Perjuangan dalam menyiapkan
Ganjar Pranowo. Maka cara ini benar-benar menjadi strategi yang bagus untuk
memuluskan Ganjar menjadi Presiden. Dimana, elektabilitas dan image baik
Ganjar yang banyak dicintai warga Jawa Tengah dapat memunculkan banyak
simpatisan baru di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, drama politik yang
terjadi juga menarik banyak pengamat dan media untuk membahasnya. Sehingga
popularitas Ganjar akan terus melonjak naik mengungguli lawan-lawanya. Tidak
hanya Ganjar, popularitas partainya, PDI Perjuangan juga akan naik dan akan
menguasasi lini masa media publik. Karena itu, ini menjadi awal yang baik bagi
PDI Perjuangan untuk menguatkan Ganjar dalam Pemilihan presiden tiga tahun yang
akan datang.
Jika tidak untuk Ganjar Pranowo, kemungkinan drama politik tersebut
diperuntukan untuk menaikan elektabilitas Puan Maharani. Meskipun cucu Soekarno
tersebut akan mendapatkan banyak tekanan dari banyaknya pendukung Ganjar. Semua
itu tidak akan berjalan lama, sebab panggung pencapresan masih tiga tahun
kedepan. Apalagi, kembali menurut Mikhael Raja Muda Bataona, bentrokan politik
ini resikonya sangat minim bagi PDI Perjuangan. Sebab Ganjar dan Puan adalah
tokoh kunci PDIP selain Megawati dan Jokowi. Dan apalagi, Ganjar memahami bahwa
dirinya adalah kader dan secara ideologis wajib menjaga solidaritas partai. Ini
pun menjadi keuntungan bagi mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia
dan Kebudayaan Republik Indonesia tersebut.
Kita semua tidak tahu secara pasti apa maksud dari drama politik yang terjadi. Namun, pada intinya masyarakat, anak muda dan kita semua jangan polos dalam menilai drama pada politik yang mempunyai sifat dinamis.



Komentar
Posting Komentar