Pondok Pesantren Ajarkan Seksualitas Pada Santri

Ilustrasi Pacaran (Foto: Cahaya Al-Jazira)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional islam yang ada di Indonesia bahkan dunia. Ditempat inilah para pembelajar agama disebut dengan santri. 

Dipondok pesantren santri dituntut untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam (Tafaqquh Fiddin) dengan menekankan moralitas agama sebagai pedoman hidup dalam bermasyarakat. 

Pesantren juga salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang memiliki banyak kontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebab, pesantren tidak tidak hanya 
mengajarkan dalam hal keilmuan saja. Tetapi pendidikan akhlak adalah bagian penting yang tidak dapat dipisahkan. 

Terdapat berbagai jenis keilmuan-keilmuan yang diajarkan dalam pondok pesantren mulai dari Nahwu Shorof, aqidatul awam, ta’lim muta’alim dan lain sebagainya. Karena pendidikan akhlak adalah bagian penting pembelajaran pesantren terdapat berbagai macam pendidikan moral yang diajarkan, salah satunya paada kitab Qurrotul uyyun, karya Syaikh Muhammad Al-Tahami bin Madani.


Qurrotul uyyun adalah salah satu kitab yang menjelaskan tentang etika tata cara berhubungan suami isteri. Sehingga pembelajaran ini hanya diperuntukan orang yang sudah berusia dewasa atau baligh.


Didalam kitab Qurrotul uyyun penjelasanya sangatlah mendalam. Salah satunya penjelasan tentang posisi berhubungan intim yang baik bagi suami isteri. “Posisi seorang istri dalam bersetubuh adalah terlentang diatas seprai yang dingin, kemudian suaminya menaiki tubuh istrinya (Kondisi telungkup), sang istri harus mmenundukan kepalanya kebawah dan pantatnya (Pinggulnya) diangkat keatas dengan diberi ganjal sebuah bantal.” Tuntunan posisi bersetubuh seperti itulah adalah cara yang paling nikmat bagi suami isteri.

Penjelasan yang terlalu vulgar pada kitab qurrotul uuyun seperti yang dijelaskan diatas adalah salah satu alasan bahwa kitab ini tidak baik jika diajarkan pada santri yang masih dibawah umur atau belum baligh. Namun pendidikan seks tetap perlu diajarkan pada santri yang belum baligh sebagai penegtahuan. Salah satunya pembelajaran seks dalam kategori ringan seperti belajar mengenai ketentuan mandi wajib (Junub).

 Keilmuan ini menjadi perlu, sebab kedepanya mereka juga akan mengalami apa yang dinamakan mimipi basah (Keluarnya air mani). Sehingga, jika hal ini telah diajarkan, maka santri akan mengetahui bagaimana ia akan bertindak (Menyucikan diri). 

Pendidikan seks pada pesantren adalah bagian penting dari pendidikan moral bagi santri. Agar nantinya mereka memperhatikan aturan-aturan yang harus dipenuhi dalam pernikahan.

Komentar

Postingan Populer