Pendidikan dalam Realita


(Tulisan ini juga telah diposting dalam media qureta)

Ilustrasi Pendidikan (Foto: Limawaku)


Pendidikan dan manusia adalah dua entitas yang saling  berhubungan. Pendidikan dilaksanakan dalam rangka untuk memperoleh kemerdekaan hidup, pengakuan derajat, minimal derajat sebagai manusia. Pendidikan mengajarkan manusia bagaimana cara menghadapi problem yang ada pada ruang lingkup hidupnya.
Hampir selama beberapa generasi, proses belajar yang telah berjalan ternyata memiliki banyak problem, ternyata pendidikan yang dijalankan hanya bersifat otoriter. Selama ini guru hanya memberikan sekadar teori tanpa praktik yang hanya bisa digunakan untuk menjawab soal, namun tak bisa memahami realita sosial yang ada. Oleh karena itu, pendidikan harus bisa mengantarkan manusia menjadi manusia yang bermartabat.
Sudah terbukti bahwa masyarakat Indonesia sebagian besar adalah dari perdesaan, namun di dalam sekolah tidak diajarkan realita masyarakat desa. Hingga kini tidak ada anak yang mempunyai cita-cita sebagai petani yang menjadi mata pencaharian masyarakat desa.
Anak-anak desa malah seolah-olah merendahkan pekerjaan sebagai petani. Anak-anak menjadi gengsi terhadap pekerjaan itu karena doktrin menjadi polisi, TNI, PNS, DLL dalam pendidikan lebih besar.
Julukan Indonesia sebagai negara agraris mulai semakin hari semakin turun karena semakin berkurangnya minat menjadi petani. Penidikan sampai hari ini belum mampu membawa masyarakat untuk bisa cerdas. Sistem pendidikan yang kurang jelas dan masih simpang siur yang pada akhirnya hanya membingungkan peserta didik di sekolah.
Albert Einstein pernah berkata bahwa semua manusia itu genius. Jika sebuah ikan itu disuruh untuk memanjat pohon selamanya ikan itu tidak akan bisa dan akan menganggap dirinya bodoh, ikan tak akan bisa memanjat pada dasarnya ikan lebih jago dalam berenang. Begitu pula anak-anak, mereka mempunyai kelebihan masing yang perlu digali dan ditingkatkan.
Jangan jadikan peserta didik seperti robot. Sadarlah, Anda sudah berapa peserta didik yang Anda jadikan seperti ikan itu. Pendidikan tersebut harus membuat peserta didik sadar siapa dirinya dalam dunia luarnya. Kesadaran inilah yang membuat sadar bahwa dirinya tidak bebas seperti yang dibayangkan. Praktik pendidikan selama ini bukannya mencerdaskan malah sebaliknya, pendidikan dijadikan arena pembodohan.
Penerapan pendidikan siswa bebas berpikir kritis dan kreatif untuk mengolah problem yang ada dengan bimbingan guru, Jangan menjadikan pendidikan sebagai kompetisi, namun jadikanlah pendidikan sebagai ajang kerja sama untuk saling sharing dan berkolaborasi.
Hal ini akan menciptakan keluaran pendidikan yang selalu siap mengembangkan dirinya secara mandiri, sehingga mampu mengatasi masalah sosial dengan kritis,inovatif, kreatif, cerdas, dan mandiri.
Pendidikan merupakan suatu limpahan ilmu dari beberapa bentuk kejadian di dunia dari mahluk hidup ke mahluk hidup lainya yang nantinya akan mempengaruhi proses kehidupan makhluk hidup lainya. Pendidikan merupakan kebutuhan semua manusia yang sudah menjadi hak asasi manusia untuk memperoleh pendidikan.
Dengan pendidikan diharapkan membentuk karakter dan kontribusi bagi kehidupan manusia menuju hakikat hidupnya. Pengembangan eksistensi manusia menuntut sistem pendidikan yang lebih aktif dalam berbagai persoalan sosial masyarakat.

Peran orang tua, masyarakat, dan guru
Orang tua menjadi komoditas utama bagi anaknya dalam belajar. Perilaku orangtua banyak dicontoh oleh anak-anaknya. Sebagai contoh, orangtua yang merokok dipastikan anaknya akan ikut merokok. Diharapkan orangtua memberikan contoh nilai norma yang baik dalam bersosial masyarakat.
Masyarakat sebagai pelaku utama dalam bersosial selayaknya memberikan contoh pada generasi muda. Apa jadinya jika masyarakat tak memberikan contoh nilai norma yang baik, seperti pemimpin yang korupsi, masyarakat unjuk rasa yang tak memperhatikan norma, hingga merusak fasilitas-fasiltas umum. Di zaman serba canggih ini, generasi muda lebih mudah melihat berita-berita seperti itu, sehingga peluang untuk meniru yang dilakukan pun semakin besar.
Guru harus bisa selalu melihat sikologis anak. Di dalam kelas, semisal, ada dua puluh anak. Di situ anak mempunyai karakter yang berbeda-berbeda. Tidak bisa disamakan dalam memberi porsi belajar.
Apa jadinya jika siswa banyak ditekan dituntut dengan cara kekerasan? Siswa akan merasakan tekanan yang sangat membuat stress. Masih ingat dengan kejadian siswa yang bunuh diri karena persiapan UN. Miris, bukan?
Karena itu, guru dituntut lebih kreatif dalam hal mengajar. Guru juga tak bisa disalahkan sepenuhnya. Pemerintah sebagai badan penggerak pendidikan juga diharapkan bisa memperbaiki kurikulum yang lebih terbuka. Pada dasarnya, dari waktu ke waktu, dunia pendidikan teruslah berbenah agar mempunyai fungsi sebagai sarana penemuan dan pengembangan.a

Komentar

Postingan Populer