Sang Inspirator Semangat
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pagi yang cerah di teras Ma’had. Ditemani kopi hitam dan buku,
kutulis kata-kata indah yang akan kurangkai menjadi cerita agar menjadi
sejarah di kemudian hari.
"Saidul, ada jam kuliah nggak? Ayok berangkat bareng!"
Satu suara mengejutkanku. Ternyata Febri, kawanku satu kampus.
"Ada. Sebentar, aku siap-siap dulu,” sahutku sambil berjalan menuju lorong kamar.
Kami menuju kampus. Sepanjang jalan kami membincangkan perihal literasi.
"Feb, menurutmu, kenapa dunia literasi kita rendah?"
Tanpa menunggu jawabannya, aku mengoceh.
“Kita sebagai mahasiswa harus bisa membangkitkan dunia literasi, Feb," aku bergaya.
Tiba-tiba Febri berhenti berjalan. Menatap langit.
"Suatu saat nanti dunia ini akan kutaklukan dengan buku, dengan
pengetahuan. Aku ingin membuat senyum orang tuaku, membuat bangga
negeriku,” ujar Febri.
Kami tiba di depan gerbang kampus, dan kami masuk kelas masing-masing.
Di kelas, mata kuliah bahasa Indonesia siap dimulai.
“Sebelum kita memulai pelajaran, coba ikuti intruksi saya," ajak Bu
Ida, dosen kami. "Silakan berdiri, tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan
dari mulut,” perintah Bu Ida.
Kami semua heran namun kami mengikuti perintahnya.
“Sekarang tutuplah mata kalian. Angkat kedua tangan kalian. Tangan
kanan biarkan terbuka dan tangan kiri menggenggam, bayangkan cita-citamu
tergenggam di tangan kirimu lalu tangan kananmu gunakanlah untuk berdoa
pada Yang Maha Kuasa. Memohonlah agar cita-citamu terwujud.”
Satu persatu dari kami dipandanginya.
“Jaka apa cita-cita kamu?” Tanya Bu Ida.
Jaka berfikir agak lama.
“Saya ingin jadi guru, untuk generasi penerus bangsa,” jawab Jaka akhirnya.
"Kalau Aji, apa cita-citamu selama ini?"
“Aku akan jadi ilmuwan, Bu,” tegas Aji.
Setelah semua anak ditanya, kini giliranku.
"Saidul apa cita-citamu?"
Tentu aku gelagapan untuk menjawabnya. Aku tak punya jawaban pasti.
Aku cuma punya jawaban klise yang biasa diucapkan banyak anak-anak,
“Saya ingin menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama,”
jawabku.
"Sekarang semua bisa duduk," perintah Bu Ida, setelah mendoakan terkabulnya cita-cita kami.
Bu Ida memotivasi kami semua di kelas, dengan cerita-cerita inspiratif.
Jam kuliah selesai, dan aku kembali ke ma’had dengan Ali, teman sekamarku.
Kurebahkan badan di kasur yang penuh kenyamanan bagiku. Tampak coretan cita-cita pada dinding kamarku.
Srekkk... srekkk... srekkk... suara sapu di depan pintu kamar.
"Siapa yang bersih-bersih itu?" Tanyaku ke Ali, yang asyik-masyuk bermain gadget.
“O, itu Kang Satria, sosok inspiratif di sini, di kampus, di manapun ia berada," ujar Ali.
"Benarkah? Bagaimana cerita tentangnya?"
"Kang Satria asli Sragen. Dia kuliah dengan beasiswa, berprestasi,
jadi duta kampus, bolak-balik luar negeri. Pokoknya hebat deh. Sejak
kecil ia itu tak pernah bertemu sosok pendamping hidup ibunya. Dia hidup
tanpa ayah. Di situlah mungkin ia mempunyai motivasi tinggi untuk
membahagiakan ibunya. Ia orang yang tekun. Ia rajin membaca dan
menulis. Buku menjadi makanan rutinitas tak pernah ditinggalkan," papar
Ali.
Matahari pergi. Langit jadi gelap. Adzan berkumandang di surau. Aku bergegas ke masjid, dan mengambil shof paling depan.
Tepat jam 19:30 WIB jadwalnya Bimbel sebuah tulis menulis di
ma’had. Kang Satria lah yang mengajar. Ya, prestasinya dalam dunia
tulis menulis membuat aku dan kawan-kawan lain semakin bergairah dan
termotivasi untuk juga mengikuti jejaknya dalam hal tulis menulis. Bermodal pensil dan kertas aku hidup. Begitu kata-kata yang sering ia lontarkan.
Waktu terus berjalan. Semua anak mengikuti kelas dengan ayik dan
semangat. Ketika waktu telah selesai akku dekati Kang Satria dengan gaya
sok akrab.
“Ayo kita ngopi, Kang,” ajakku.
“Yang ngajak nraktir sampai puas. Gimana? Ha-ha-ha.” jawabnya.
“Siap. Ngebon,” balasku.
Hari demi hari, minggu demi minggu berlalu. Aku dan Kang Satria kian
akrab. Banyak ilmu dan pengetahuan yang kudapat darinya. Dan, darinya
pula dengar langsung kalau tak lama lagi ia akan pergi meninggalkan
ma'had. Ia akan pergi ke negeri kincir angin untuk melanjutkan progam
studinya. Aku kaget.
Kabar Kang Satria pergi ke Belanda sudah menyebar seantero ma’had. Sang inspirator tak lama lagi akan pergi.
Malam itu terakhir kita belajar bersamanya. Suasana hening. Sebelum esok pagi ia pergi, dirinya berpesan:
“Berikan separuh waktumu untuk buku, buku adalah sebaik-baiknya sahabat.”
*Mahasiswa IAIN Salatiga



MasyaAllah, barokallah mas ipur👍
BalasHapusMas Sabar aku pernah diajar beliau, memang inspirator bgt patut dicontoh🌠